
Potensi Briket Bonggol Jagung Desa Sendangdawung sebagai Bahan Bakar Alternatif
Desa Sendangdawung memiliki potensi pertanian jagung yang cukup besar dengan luas lahan sekitar 7 hektare dan produksi jagung mencapai sekitar 35 ton per tahun. Besarnya produksi tersebut juga menghasilkan limbah bonggol jagung yang diperkirakan mencapai sekitar 7 ton per tahun. Selama ini, limbah bonggol jagung berpotensi menjadi sumber permasalahan apabila tidak dimanfaatkan secara optimal.
Salah satu alternatif pemanfaatan limbah tersebut adalah mengolah bonggol jagung menjadi briket biomassa. Briket merupakan bahan bakar alternatif yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi terbarukan. Bonggol jagung memiliki kandungan karbon yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku briket, sehingga pengolahannya dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan nilai guna limbah pertanian sekaligus mendukung pemanfaatan energi alternatif di tingkat desa.
Proses pembuatan briket bonggol jagung meliputi karbonisasi, penghalusan, pencampuran dengan perekat, pencetakan, dan pengeringan. Bonggol jagung terlebih dahulu dikarbonisasi hingga menjadi arang, kemudian dihaluskan dan diayak. Serbuk arang selanjutnya dicampur dengan perekat tepung tapioka, dicetak dan dipadatkan sesuai bentuk yang diinginkan, kemudian dikeringkan selama kurang lebih 2–3 hari hingga kadar air berkurang dan briket siap digunakan.
Berdasarkan penelitian Sulistyaningkarti (2017), variasi persentase perekat memengaruhi kualitas briket, dan kualitas terbaik pada penelitian tersebut diperoleh pada penggunaan perekat tepung tapioka sebesar 5%. Kualitas briket dapat dilihat melalui beberapa parameter, seperti kadar air, kadar zat menguap, kadar abu, dan nilai kalor. Parameter tersebut penting karena berkaitan dengan kemudahan penyalaan, karakteristik pembakaran, jumlah abu yang dihasilkan, serta energi panas yang dihasilkan oleh briket.
Pemanfaatan bonggol jagung menjadi briket diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk pengelolaan limbah pertanian yang bernilai tambah bagi masyarakat Desa Sendangdawung. Selain mengurangi limbah, pengolahan ini berpotensi menghasilkan bahan bakar alternatif yang lebih padat, mudah disimpan, dan memiliki karakteristik pembakaran yang lebih terkontrol dibandingkan arang biasa.
Melalui inovasi pemanfaatan limbah ini, potensi pertanian Desa Sendangdawung tidak hanya menghasilkan produk pertanian, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi sumber energi alternatif yang mendukung prinsip ekonomi sirkular dan pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.
Sumber: Sulistyaningkarti (2017), Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia (JKPK).
Disusun oleh: Tim KKN-R Universitas Diponegoro 2026.
Dipost : 16 Agustus 2026 | Dilihat : 181
Share :